Bayer Permainkan Harga Kopi KBB, Ini Kata Asosiasinya

Ketua Asosiasi Kopi Bandung Barat, Kunia DN saat menunjukan produk kopi KBB diacara Patarema 2018 yang digelar Disparbud KBB di Kota Baruparahyangan, Rabu (6/7/2018).

PADALARANG-Produk kopi Kabupaten Bandung Barat (KBB) ditampilkan dalam festival Patarema yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Distarbud) KBB. Kopi ini merupakan produk asli dari beberapa wilayah di KBB. Di antaranya kopi dari Cililin, Gununghalu, Lembang, dan beberapa kecamatan lainnya di KBB.

Kopi KBB mempunyai rasa khas dari kopi yang tenar di tanah air, dan siapa sangka kopi KBB sudah ekspor hingga ke Jepang. “Kopi dari Gununghalu yang sudah ekspor ke Jepang,” ujar Owner Rumah Kopi Wins, Alwin Rilhandi yang berlokasi di Jalan Somawinata Tirtamulaya, Ngamparah KBB ditemui di Festival Patarema 2018 di Kota Baruparahyangan, Jumat (6/7/2018).

Rumah Kopi Wins masih terkendala soal pemasaran yang perlu sentuhan tangan dari Pemkab Bandung Barat, terbatas pemasaran di KBB dan Bandung Raya. “Kami masih belum bergerak pemasarannya di Bandung pun belum seluruhnya,” tuturnya.

Ketua Asosiasi Kopi Bandung Barat, Kunia DN berharap, ada bayer yang mau mengekspor kopi KBB ke luar negeri juga mengakomidir prodak- prodak kopi di KBB. “Jadi jangankan di KBB di Jawa Barat belum ada bayer yang mampu mengekspor,” katanya.

Kurnia belum tahu, soal kendala bayer yang tidak mau datang ke Jawa Barat khususnya di KBB. Apakah nilai kopi kecil atau tidak tahu dunia kopi. “Padahal bayer-bayer dari Medan, Surabaya bahkan Aceh mau berbulan-bulan tinggal di Bandung hanya untuk nampung kopi kalau untungnya tidak berlimpah,” sebutnya.

Tentunya kerugian jika memakai bayer dari luar Jawa Barat dengan memainkan harga kopi. “Tapi dalam kondisi terjepit bisa keluar dari permasalahan. Jika di Medan dipermainkam bisa dilempar ke Surabaya atau daerah lainnya,” tuturnya.

Harga kopi green bean standar ekspor Rp 70 ribu/kg. Nah dari petani ke kelompok tani berupa kopi cerry dihargai Rp 9-10 ribu/kg standar Jawa Barat. “Tapi kita lempar ke bayer masih ada saja kekurangan stok barang,” tutur kurnia.

Untuk produksi kopi dari Sindangkerta paling banyak hingga 200 ton per musim di bulan Mei hingga Agustus. Sedangkan Cikalongwetan dan Lembang 120 ton permusim. (wie)

 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *