Gangguan Jiwa, Dua Tahun Berdampingan dengan Mayat

TRAGIS: Petugas Kepolisian saat mengevakuasi kerangka manusia warga Melong Cimahi yang tidak dikuburkan. Kasus tersebut, dokter RSJ Cisarua KBB menyatakan tiga pelaku mengalami gangguan jiwa.

CIMAHI – Tiga orang pelaku penyimpan mayat di Cimahi dinyatakan positif mengalami gangguan jiwa. Dua orang anak dari Neneng Hatidjah, yakni Denny dan Erna, kini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat, Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Sementara Neneng dirawat di Poli Jiwa RS Dustira Kota Cimahi.

Seperti diketahui, Neneng, bersama kedua anaknya itu hidup berdampingan selama hampir dua tahun bersama dua kerangka manusia yang tak lain adalah anak dan suaminya.

Wakil Direktur Pelayanan Rumah Sakit Jiwa Cisarua, dr. Riza Putra mengatakan Erna dan Denny sudah mendapatkan penanganan secara intensif di RSJ Cisarua.

“Kakak beradik itu dinyatakan positif mengalami gangguan kejiwaan setelah mendapat pemeriksaan dari dokter rumah sakit. Selama 40 hari ke depan, kita tempatkan di salah satu ruangan yang kita sebut ruang rawat jiwa intensif. Akan kita lakukan observasi lanjutan,” terangnya, Jumat (2/2/2018).

Saat ini, kondisi kejiwaannya tidak stabil. Mereka berdua tak mau menjawab ketika ditanya dan lebih cenderung menyendiri. Dia negativistic dan merasa takut, mengatakan tidak bersalah atas perbuatannya, serta belum bisa menjawab apa-apa sehingga dilakukan penangan secara komprehensif.

“Kita berikan psikoterapi kepada yang bersangkutan sebagai upaya memulihkan kondisi kejiwaannya,” tuturnya.

Sementara kondisi Neneng, lanjut dia, terdapat tiga gangguan kejiwaan yang dialami yakni, gangguan pikiran. Dalam pikirannya terdapat halusinasi suara-suara yang sebenarnya bukan suara, lalu gangguan emosional seperti adanya faham atau keyakinan mendapat mandat dari Sang Pencipta, tugas dari seseorang, tugas dari orangtua dan lainnya. Terakhir, gangguan psikomotorik seperti gelisah berlebihan, histeris, serta pengaruh halusinasi.

“Tapi saya tidak tahu yang mana yang menonjol pada yang bersangkutan. Harus ditunggu perkembangannya,” terangnya.

Terkait gangguan kejiwaan yang menimpa seluruh anggota keluarga, ia menyebutkan, berdasarkan etiologi gangguan jiwa, salah satunya adalah, gangguan kejiwaan bisa diturunkan melalui faktor genetika meskipun angkanya sangat kecil. Namu, biasanya penyebab utama adalah pola asuh atau stres.

“Bisa jadi karena rasa sayang berlebih terhadap anggota keluarga, sehingga apapun dilakukan. Imbasnya pada perilaku dan pikiran yang akhirnya tidak sehat,” pungkasnya. (mon)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *