Gawat, Urang Cimahi Ogah Makan Ikan

CIMAHI – Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jawa Barat, Dedi Arief Hendriyanto, menyebutkan, minimnya minat masyarakat khususnya di Jawa Barat terhadap konsumsi ikan dikarenakan beberapa faktor.

Di antaranya, belum banyaknya varian masak ikan, kurangnya pasokan ikan laut ke Jabar yang membuat masyarakat jadi kurang mengetahui jenis ikan laut apa saja yang ada di pasar.

“Sampai sekarang, masyarakat hanya tahu ikan lokal saja seperti mas, nila, gurame dan mujair ketimbang ikan laut yang bergizi tinggi,” kata Dedi, di Kantor BKIPM Jalan Ciawitali, Kota Cimahi, Rabu (28/11/2017).

Dalam hal ini, lanjut dia, sebetulnya masyarakat mengetahui manfaatnya apabila rutin mengkonsumsi ikan baik ikan air tawar maupun ikan laut. Namun, sejauh ini masyarakat masih banyak yang belum mengetahui ikan yang bermutu maupun layak dikonsumsi.

“Jadi, alangkah baiknya masyarakat mengetahui dulu perbedaan ikan yang layak dikonsumsi dan bermutu,” tuturnya.

Dari data catatan BKIPM Jawa Barat, ikan yang layak dikonsumsi dan bermutu adalah ikan yang masih segar. Untuk ciri-ciri ikan segar yakni, ikan segar akan tampak lebih cerah, terang, mengkilat, serta lapisan lendir pada tubuh ikan lebih jernih. Dan terlihat transparan serta belum ada perubahan warna.

Mata ikan segar masih tampak lebih cerah dan kondisinya masih menonjol keluar. Insang ikan segar masih dalam kondisi dengan warna merah cerah. Sisik ikan segar masih tampak cerah dan melekat, serta Daging ikan lebih kenyal.

Untuk ikan dalam kondisi tidak segar, Ikan akan tampak lebih kusam, lendir pada tubuhnya mulai mengental, menggumpal, dan berubah warna menjadi kekuningan. Selain itu, mata ikan tidak segar dan tampak cekung karena masuk ke dalam rongga mata. Kemudian, Insang berwarna merah gelap kecoklatan, dan sisik ikan yang rontok jika dipegang.

“Dengan tercatatnya ciri-ciri ikan segar ini, saya harap masyarakat dapat memilih ikan yang baik untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Sebagai fungsi supporting pemerintah daerah, kata dia, pihaknya terus berkolaborasi dalam upaya implementasi inpres tentang keamanan pangan.

“Salah satu upanya, memberikan coaching (kepelatihan dasar) kepada masyarakat terkait ikan bermutu dan aman konsumsi. Kepada pemerintah daerah, kami mengusulkan agar 1 kelurahan wajib ada 1 pasar ikan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk mengindari ikan yang membawa virus penyakit masuk ke wilayahnya, Dedi mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan dari mulai Bandara hingga toko- toko modern yang menjual ikan.

Pengawasan berkala juga dilakukan dari retail modern dan pasar tradisional bahkan, ada beberapa retail modern yang sudah disertifikasi cara penanganan ikan yang baik.

“Sekarang sudah bekerjasama bersama Badan Pom, YLKI , dinas pangan dan dinas kelautan perikanan,” ucapnya.

Dia menegaskan, untuk ekspor dan impor wajib dilengkapi health certificate dr BKIPM. Agar semua ikan yang masuk bisa dipastikan untuk konsumsi mayarakat.

“Jelas ikan yang masuk ke jabar khsusnya, harus diperiksa. Karena takutnya ikan yang masuk malah bawas bibit penyakit,” pungkasnya. (mon)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *