Goodbye Nia-Usman..!!

SOREANG– Tim koalisi pasangan calon (paslon) Bupati/Wakil Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina-Usman Sayogi harus menerima kenyataan pahit.

Satu per satu pendukungnya menyatakan beralih mendukung paslon nomor urut 3, Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas).

Sebelummya, puluhan pengurus dan kader senior PBB dari 18 kecamatan beralih mendukung pasangan Bedas.

Pengurus PAC Partai Gerindra Kabupaten Bandung dari 28 kecamatan menolak mendukung Nia-Usman dan beralih mendukung pasangan Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas) foto utama.
Calon bupati nomor urut 3, Dadang Supriatna memberikan tanggapan atas dukungan yang diberikan 28 PAC Partai Gerindra Kabupaten Bandung (foto:istimewa).

Kali ini “badai” menghampiri Partai Gerindra. Partai Gerindra secara resmi melabuhkan dukungan untuk pasangan nomor urut 1, Kurnia Agustina-Usman Sayogi, secara mengejutkan 28 Pengurus Anak Cabang (PAC) dan mantan pengurus Partai Gerindra Kabupaten Bandung dari 28 kecamatan memilih berlawanan dengan sikap partai.

Mereka memilih “menyebrang” dengan mendukung pasangan Bedas yang diusung PKB, Nasdem, Demokrat, dan PKS.

Mantan Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Cicalengka, Tatang Saripudin mengatakan 28 PAC Partai Gerindra tidak setuju dengan keputusan Ketua DPC Gerindra yang mendukung paslon Kurnia Agustina-Usman Sayogi karena keputusan itu dinilai melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

Menurut Tatang, keputusan DPC Partai Gerindra yang mencalonkan Usman Sayogi dipertanyakan seluruh PAC Gerindra yang berjumlah 31 PAC atau pengurus kecamatan. Sebab pengusungan Usman Sayogi dinilai menyalahi AD/ART dan mekanisme partai yang sejak awal melakukan penjaringan bakal calon bupati.

“Partai Gerindra kan sempat menjalankan mekanisme penjaringan calon bupati. Yang mendaftar ada lima orang. Mereka sudah mengikuti semua mekanisme dari mulai pendafataran hingga fit and proper tes. Tapi ternyata yang muncul adalah Usman yang tidak mengikuti mekanisme penjaringan ini,” kata Tatang kepada wartawan di Jatinangor, Jumat (9/10/2020).

Bahkan, kata Tatang, ketika para Ketua PAC dan kader Gerindra mempertanyakan keputusan partai yang justru malah mengusung Usman Sayogi yang notabene berasal dari ASN dan bukan kader partai, Ketua DPC Gerindra malah memecat para Ketua PAC yang menentang dan tidak sejalan dengan keputusan Ketua DPC Gerindra.

“Yang sekarang bergabung dengan kami ada 28 PAC atau 28 kecamatan. Yang katanya dipecat ada 12 Ketua PAC, termasuk saya. Saya katanya dipecat, tapi hanya lisan. SK-nya enggak ada. Saya masih punya SK Ketua PAC. Ketua PAC yang masih aktif dan para kader, mereka juga siap diberhentikan karena kami sudah bulat mendukung Bedas,” ungkapnya.

Menurut dia, saat ini arus bawah partai dan juga di tengah masyarakat menghendaki adanya perubahan kepemimpinan di Kabupaten Bandung.

Menurut dia, seharusnya Pengurus DPC Gerindra Kabupaten Bandung menangkap keinginan masyarakat tersebut. Rizal menyebut masyarakat Kabupaten Bandung tidak menginginkan tumbuhnya dinasti politik di Kabupaten Bandung.

“Dari sisi emosionalnya, bahwa Kabupaten Bandung itu bukan milik keluarga tertentu. Saat ini sudah 20 tahun, satu keluarga berkuasa dan sekarang ingin memasuki episode selanjutnya. Masyarakat menghendaki perubahan. Itu harusnya jadi paradigma berpikir Ketua DPC,” ungkap Rizal.

Terlebih, kata dia, para kader Partai Gerindra adalah kader-kader yang memiliki mindset dan semangat perubahan serta berpikiran maju.

“Jadi ketika para kader ini didorong untuk mengikuti gerakan yang tidak mau berubah, lambat laun mereka akan keluar dari trek itu. Itu yang kemudian bikin para PAC jengah dan akhirnya menuai badai,” ujarnya.

Kedua alasan itu juga diperparah dengan arogansi yang ditunjukkan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bandung, Yayat Hidayat. Menurut Rizal, Ketua DPC Gerindra seperti tidak mau membuka komunikasi dan enggan menerima masukan dari para kader maupun Pengurus PAC.

“Kalau saja Ketua DPC mau berkomunikasi dan mendengar masukan kami, mungkin PAC-PAC akan mengerti dengan keputusan partai dan enggak akan ada konflik seperti sekarang. Keran komunikasi tidak dibuka, yang muncul adalah arogansinya. Kumaha saya, kumaha saya wae (giman saya, gimana saya terus). PAC yang tidak nurut langsung dipecat,” kata Rizal.

Ia mencontohkan, saat nama Usman Sayogi tiba-tiba muncul dan hendak diusulkan sebagai bakal calon wakil bupati dari Gerindra, para Pengurus PAC Gerindra langsung bereaksi dan mengajukan protes kepada Ketua DPC. Namun para Ketua PAC yang protes, malah dipecat secara lisan oleh Ketua DPC Gerindra Yayat Hidayat.

“Ketika itu seluruh PAC protes yang dimotori Pak Tatang, Ketua PAC Cicalengka. Kenapa dikatakan dimotori, karena Pak Tatang itu salah seorang tokoh senior dan pendiri Gerindra. Kalau Ketua DPC itu orang baru di Gerindra,” kata dia.

Akhirnya diakui atau tidak, tambah Rizal, sikap-sikap kontraproduktif yang dilakukan Ketua DPC Gerindra akan menguntungkan pasangan Bedas. Buktinya, kata dia, saat ini PAC Gerindra baik yang sudah dipecat maupun yang masih aktif, mayoritas memberikan dukungannya kepada paslon nomor urut 3, Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan.

“Pasangan Bedas memiliki elektabilitas tinggi. Selain itu masyarakat Kabupaten Bandung itu religius dan masyarakat religius itu berdasarkan hasil survei mereka menghendaki pemimpin laki-laki, bukan perempuan,” kata Rizal.

Para Ketua PAC dan kader Gerindra yang memilih mendukung pasangan Bedas mengaku siap menerima konsekuensi partai yaitu diberhentikan atau dipecat. Meski demikian, kata Rizal, para kader Gerindra akan tetap berjuang mewujudkan perubahan di Kabupaten Bandung.

“Sekarang kami 28 PAC di bawah kepemimpinan Pak Tatang beralih mendukung Bedas walau dengan segala konsekuensi mau dipecat atau diberhentikan, siap semuanya. Kami bakal habis-habisan memenangkan Bedas karena ini soal harga diri bagi para Ketua PAC,” ungkap Rizal seraya menyebut sebanyak 120 ribu suara Gerindra bakal dialihkan ke pasangan Bedas.

Sementara itu, Calon Bupati Bandung nomor urut 3, Dadang Supriatna mengaku tidak menyangka pihaknya bakal mendapat dukungan dari para kader Gerindra dari 28 kecamatan. Apalagi, kata dia, Partai Gerindra adalah partai pengusung paslon nomor urut 1, Kurnia-Usman Sayogi.

“Saya sangat bersyukur dan benar-benar tidak pernah membayangkan bakal mendapat dukungan sukarela dari para kader Partai Gerindra ini. Sekarang mereka mendukung Bedas. Ini sudah skenario dan ketentuan Allah dan patut disyukuri. Kalau Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa membendungnya,” kata Dadang Supriatna. ***

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *