Cipatat

GP Ansor & PC NU Cetak Santri Jadi Wartawan

PERSENTASI: Pemred Web Ragam Anak Daerah (R.A.D.A.R), Hadi Wibowo saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada para santri yang digelar PC GP Ansor dan PC NU KBB di Kampus Almutariyah Jalan Stasion Raja Mandala, Kecamatan Cipatat KBB, Rabu (4/10/2017).

CIPATAT- Pelatihan jurnalistik dan Cyber yang digelar Pengurus Cabang (PC) GP Ansor dan PC NU Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi daya tarik tersendiri bagi santri-santri di tiap kecamatan di Bandung Barat.

Setidaknya, pelatihan jurnalistik yang diikuti santri dari 16 kecamatan tersebut dipersiapakan untuk menjadi jurnalis di lingkungannya masing-masing.

Pelatihan jurnalistik itu mengambil tema “Menciptakan Generasi Muda NU yang memiliki intelektual unggul di era globalisasi” diselenggarakan di Kampus SMA Almutariyah Jalan Stasion Raja Mandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (4/10/2017).

“Kami ingin mencetak santri jadi penulis, karena Ansor dan PC NU di tiap kecamatan memiliki web sendiri,” ujar Pelaksana pelatihan jurnalistik yang juga Ketua PC GP Ansor, Cecep Nedi.

Tentunya, kata Cecep, pembuatan web dimaksudkan untuk menangkis berita-berita hoax yang beredar di media sosial. “Kalo punya web kan jelas sumber beritanya,” kata Cecep.

Ketua PC NU KBB, Agus Mulyadi mengapresiasi kegiatan tersebut. “Setidaknya pelatihan ini bisa menjadi pengetahuan tersendiri bagi para santri, ya mudah-mudahan saja bekal ilmu juga,” katanya.

Sedangkan Ketua Yayasan Al Mukhtariyah, H. Ayi Hanafiah mengucapkan rasa syukurnya bisa memberikan sumbangsih demi suksesnya acara tersebut. “Kami atas nama yayasan ucapkan terima kasih kegiatan ini postif untuk generasi muda,” tuturnya.

 

Ketua Bidang Media PW Ansor Jawa Barat, Edi Rusyandi menyambut baik pelatihan jurnalistik sebagai sarana dakwah, tidak hanya lisan namun tulisan.

“Setidaknya dengan era digital ini bisa mensiarkan visi dakwah Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyah,” katanya.

Diera globalisasi saat ini, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengakui, jika tantangan dakwah NU cukup berat karena muncul wacana keagamaan yang mengarah kepada paham agama radikalisme.

“Makanya ini perlu diimbangi dengan dakwah NU yang khas ramah, santun, damai, dan senantiasa mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Sekarang banyak berita hoax yang mengarah kepada tokoh NU seperti Said Agil Siraj, Gus Mus, dan Quraish Shihab yang nota bene dikalangan santri di pasantren sangat dihargai. Maka dari itu tugas kita sebagai kader muda untuk menangkis informasi hoax yang tujuannya memecah belah umat,” ujar alumni UIN SGD Bandung angkatan 2001 ini.

Sementara itu, Pemred web Ragam Anak Daerah (R.A.D.A.R), Hadi Wibowo mengatakan, menjadi seorang jurnalis bukan hanya alternatif terakhir setelah sulitnya mencari pekerjaan. Namun, lanjutnya, mesti dilandasi keinginan yang kuat dan tentunya niatan cita-cita awal untuk menjadi seorang wartawan. “Sehingga kita nanti menjadi seorang jurnalis yang propesional dengan mencintai pekerjaanya,” kata Hadi.

Tentunya juga, kata Hadi, bukan tanpa risiko pekerjaan menjadi seorang jurnalis. Kendati begitu, menurutnya, perkerjaan jurnalis merupakan pekerjaan yang menyenangkan pembuka jendela dunia. “Selain harus mengetahui informasi terkini baik nasional maupun dunia, menjadi jurnalis bisa menambah relasi, kenal dengan tokoh daerah maupun nasional,” tandasnya.

Nah, soal matari yang disampaikan pada pelatihan jurnalistik kali ini, Hadi lebih memberikan tips penulisan berita bagi pemula, juga teknik penulisan berita straight news atau berita langsung untuk media harian koran atau portal berita. (buh)

 

 

.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close