J-BALAD Terus Blusukan Bantu Masyarakat, Dewan Diminta Evaluasi Kinerja Dinsos dan Dinkes

J-BALAD bersama FPSMI gelar baksos di Kecamatan Saguling. Ft istimewa

NGAMPRAH— Terbayang tidak oleh kita? Masih banyak sekali masyarakat pra sejahtera yang tidak memiliki Jaminan kesehatan.

Untuk pergi berobat ke puskesmas, mereka rata-rata mengeluarkan ongkos sebesar Rp 75 ribu sekali jalan. Jika pulang pergi Rp 150 ribu. Kebanyakan mereka hanya petani jagung, padi dan kuli bangunan.

Mungkin bagi yang terima gaji dan dekat di kota kecil, uang segitu tak ada artinya. Namun bagi mereka sangat berarti.

J-BALAD bersama FPSMI foto bareng usai baksos. ft istimewa

Kembali membantu sedikit meringkan beban masyarakat yang tidak mampu, J-BALAD Kabupaten Bandung Barat (KBB) bersama FSPMI mengadakan gerakan bakti sosial (Baksos) kepada orang-orang yang memang membutuhkan. Sasarannya anak yatim, lansia/jompo.

Baksos berupa 160 paket sembako,
dua mushaf Alquran, dan uang tunai bagi anak yatim dan lansia yang sakit.

“Meski jarak yang ditempuh 2,5 jam tapi semangat itu takan pantang meski pusing kepala karena jalan berkelak kelok menuju lokasi Kecamatan Saguling desa Cijati yang kami pilih,” ujar Ketua J Balad Arie Joehari baru-baru ini.

Melibatkan buruh FSPMI untuk selalu ikut dalam kegiatan tersebut, kata Arie, agar buruh juga tahu bagaimana cara memfasilitasi, ketika buruh sudah tidak lagi bekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) otomatis keuarga miskin baru bertambah. “Mereka otomatis tidak punya penghasilan. Mungkin ketika kita tidak turun mengikuti baksos kita tidak pernah tahu kalau di sekitar kita banyak sekali keluarga yang butuh sekali uluran tangan kita,” sebut Arie.

Gerakan baksos J-Balad dibagi menjadi 7 tim dalam pembagiannya. Masing- masing menemui masyarakat yang membutuhkan. “Mungkin ketika kita tidak bertemu kita tidak akan tahu rasanya bersyukur sehat, kita sempurna fisiknya. Tadi ditemui 2 orang adik kakak yang disabilitas bernama Silvia Rahayu dan
Fitri Nuraeni,” sebutnya.

Ketua J Balad yang kebetulan menjadi tim 1 yang bertemu dengan penyandang disabilitas. Sementara dari FSPMI dibagi menjadi beberapa titik. “Ribuan masyarakat sudah sentuh balad-balad tanpa kontribusi dinas sosial dan birokrasi regulasi dinkes yang sekarang benar-benar menyulitkan masyarakat pra sejahtera. Sebelum berkas persyaratan jadi nu geuring urgentna bisa kaburu maot,” ungkapnya.

Arie juga meminta kepada DPRD KBB khususnya Komisi IV untuk mengevalusi kenerja Dinsos dan juga Dinkes. ***

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *