Kab. Bandung Raih Penghargaan Anugerah Raksa Prasada

Gubernur Ridwan Kamil usai menyerahkan Anugerah Raksa Prasada di halaman Taman Plaza Gedung Sate Provinsi Jabar, Selasa (8/12/2020). ft istimewa

SOREANG–Gubernur Jawa Barat (Jabar) H. Ridwan Kamil mengapresiasi Bupati Bandung H. Dadang M. Naser sebagai kepala daerah peduli lingkungan. Melalui Anugerah Raksa Prasada, selama kepemimpinan Dadang Naser, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung meraih hattrick Sekolah Adiwiyata terbanyak se-Jawa Barat.

Jelang akhir kepemimpinan bupati, gubernur menuturkan, Dadang Naser terus mengukir prestasi. Dari 121 Sekolah Adhiwiyata Jabar Tahun 2020, Kabupaten Bandung mendapat jumlah paling banyak yaitu 30 sekolah, bertambah satu sekolah dibandingkan tahun 2019,  yaitu 29 sekolah. Sedangkan tahun 2018, juga dengan raihan Sekolah Adhiwiyata terbanyak dengan raihan 24 sekolah.

Selain itu, Pemkab Bandung juga meraih penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dari 39 Kampung Proklim di Jabar, 11 diantaranya berada di Kabupaten Bandung.

“Saya ucapkan selamat kepada Pak Bupati, yang akan mengakhiri jabatan di bulan Februari 2021. Saya sangat apresiasi Pak Dadang Naser. Beliau berkali-kali mendapat penghargaan baik di tingkat provinsi hingga nasional,” ucap Gubernur Ridwan Kamil usai menyerahkan Anugerah Raksa Prasada di halaman Taman Plaza Gedung Sate Provinsi Jabar, Selasa (8/12/2020).

Citra terkait lingkungan, kata Kang Emil panggilan akrab gubernur, harus melekat sebagai warisan Dadang Naser. “Perkuat keberhasilan-keberhasilannya, jadi rakyat Kabupaten Bandung mengingat tentang warisan kekuatan lingkungan hidup,” kata Kang Emil.

Bupati Dadang Naser mengungkapkan, raihan itu tidak terlepas dari kolaborasi sinergis antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pendidikan (Disdik) dan pihak terkait lainnya, yang telah berhasil melakukan pembinaan di wilayah yang dipimpinnya selama satu dekade ini.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kabupaten Bandung. Khususnya kepada para kepala sekolah, serta siswa-siswi yang turut aktif meningkatkan kualitas sekolah berbasis Adhiwiyata. Ini merupakan kreatifitas dari warga sekolah di berbagai tingkatan,” ujar Kang DN panggilan akrabnya.

Dirinya berharap, sekolah berbudaya lingkungan bukan hanya diajarkan, namun dijadikan karakter yang ditanamkan sejak dini dalam diri para generasi penerus. Pemahaman tidak buang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, lanjutnya, merupakan pendidikan yang bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehari-hari.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada para kepala desa yang pro iklim dalam penataan Kampung Saber. Alhamdulillah, menjelang akhir masa jabatan saya, banyak penghargaan yang diraih Pemkab Bandung,” lanjut Kang DN pula.

Tentunya keberhasilan yang diraih Pemkab Bandung, menurutnya tidak terlepas dari dorongan gerakan Sabilulungan melalui konsep pentahelix, yaitu Academy, Bussiness, Community, Government and Media (ABCGM).

“Semoga penghargaan ini dijadikan motivasi, untuk meningkatkan kualitas pembangunan berbagai bidang di masa yang akan datang. Termasuk pembangunan di bidang lingkungan hidup, yang saya akui sebagai bidang pembangunan yang paling sulit terwujud,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala DLH Kabupaten Bandung Asep Kusuma menambahkan, terdapat empat kriteria penilaian untuk Sekolah Adhiwiyata tingkat Provinsi Jawa Barat. Pertama, penilaian terkait kebijakan sekolah mulai dari visi dan misi, kebijakan alokasi anggaran, hingga pengembangan SDM. 

“Kedua, penilaian kaitan dengan kurikulum sekolah berbasis lingkungan. Yang ketiga, pengembangan partisipatif sekolah dengan lingkungan, komunitas, perusahaan untuk membuat aktivitas pro lingkungan. Yang terakhir, pengembangan sarana dan prasarana sekolah. Seperti kantin sehat, bank sampah dan sarana prasarana lainnya penunjang pro lingkungan,” urai Kepala DLH.

Sementara untuk Kampung Proklim, terang Asep, ada dua kriteria penilaian yaitu adaptasi dan mitigasi. Untuk adaptasi terkait dengan efektivitas rumah kaca hingga penanaman pohon di wilayah-wilayah konservasi.

“Sedangkan mitigasi, bagaimana upaya dalam mengendalikan kebencanaan. Baik bencana banjir, longsor, atau bencana lainnya di kampung tersebut,” Asep menerangkan.

Asep mengatakan, Sekolah Adhiwiyata dan Kampung Proklim merupakan kesepakatan bersama antara KLHK dan Kemendikbud. Sehingga, ke depan tercipta sekolah sebagai media pendidikan lingkungan.

“Sesuai amanat Pak Gubernur, bahwa Sekolah Adhiwiyata dan Kampung Proklim di Kabupaten Bandung harus terus bertambah, kami menargetkan ke depan bisa 50 atau 100,” harap Asep Kusuma. ***

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *