CIMAHI- Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN I Cimahi, Dodi Sularto menjadi korban intimidasi yang mengarah kepada pemerasan oleh oknum wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dodi menceritakan, awalnya oknum wartawan bersama seorang anggota LSM mendatangi sekolahnya. Kedua orang tersebut memaksa bertemu dengannya dengan dalih ingin menanyakan perihal penggunaan anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU).

Pada saat itu, Dodi yang sedang berada di ruang kepala sekolah bergegas menemui keduanya lantas memaksa akan melaporkan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dengan dugaan penyelewengan dana BOS dan BPMU

“Karena tidak terima disebut menggunakan anggaran BOS dan BPMU, akhirnya saya temui mereka. Saya tanya surat tugas, mereka malah balik marah, katanya wartawan berhak menanyakan anggaran itu,” ujar Dodi saat ditemui di SMA Negeri 1 Kota Cimahi, Jalan Pacinan, Rabu (13/12/2017).

Merasa benar, Dodi terus mendesak keduanya menunjukkan format laporan penggunaan anggaran BPMU dan BOS dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Persis seperti yang diperkirakan, oknum wartawan tersebut tak mampu menunjukkannya.

“Mereka justru tetap ngotot dan mengaku punya bukti kalau saya menyelewengkan dana BPMU dan BOS. Kecuali mereka membawa format pelaporan BOS dan BPMU, pasti saya layani. Akhirnya mereka justru menuduh pihak provinsi juga tidak benar,” katanya.

Oknum wartawan tak jelas itu juga menuding pihak sekolah melakukan pungutan liar dengan menarikan uang Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) dan SPP kepada orangtua siswa.

“Saya jelaskan, kalau DSP dan SPP itu masih boleh dipungut, yang tidak boleh itu kalau di tingkat dasar. Bahkan ada surat edaran dari gubernurnya sebagai legalitas. Akhirnya mereka minta surat itu, dan saya justru merasa yang jadi terdakwanya,” paparnya.

Peristiwa tersebut beberapa kali sudah pernah dialami oleh pihak sekolah. Menurut Dodi, oknum wartawan yang datang ke sekolahnya dan mengancam akan memberitakan terkait penyelewengan anggaran, ujung-ujungnya meminta sejumlah uang agar pihak sekolah tutup mulut.

“Beberapa kali pernah, kalau awal-awal sempat dikasih karena tidak tahu. Tapi jumlahnya tidak seperti yang mereka minta. Kalau sekarang mereka tidak sempat meminta uang, karena saya sudah tahu bagaimana menghadapi oknum tersebut,” terangnya. (mon)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *