Sebagaimana diketahui, Masjid pada masa Nabi dan Sahabat bukan hanya tempat melaksanakan salat lima waktu.

Pada masa Nabi masjid juga tempat pembinaan dan pendidikan umat. Usai salat berjamaah, Nabi biasa bercengkrama dengan sahabat dan umatnya. Pada kesempatan seperti inilah Nabi memberikan pendidikan dan pembinaan kepada umatnya.

Di samping memberikan banyak pandangan kepada umatnya tentang banyak hal, pada kesempatan seperti ini juga, Nabi sering berdialog untuk mengetahui apa yang terjadi di masyarakat.

Lebih dari itu, Nabi dan para sahabat tidak hanya menjadikan Masjid sebagai pusat pendidikan dan pembinaan umat, tapi juga menjadikan Masjid sebagai pusat pengaturan masyarakat. Bagaimana cara mempertahankan Kota Madinah dari serangan kaum kafir Quraisy, membicarakan apa yang seharusnya dilakukan menghadapi orang-orang yang murtad selepas Nabi meninggal, atau membicarakan penaklukan, semuanya dilakuan Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab di masjid.

Ketika umat Islam gembira berhasil mengalahkan kaum kafir pada perang Badar, di masjid lah pengaturan ghanimah dilakukan. Sebaliknya, ketika kaum muslimin kalah di perang Uhud, di masjid juga dirumuska upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah akibat kalah parang. Masjid menjadi tempat ketika suka dan duka. Masjid dilibatkan baik ketika situasi normal maupun tidak normal.

Pada masa pandemik Covid-19 seperti sekarang, hal seperti itu juga yang ditunjukan banyak masjid di Indonesia. Setelah sebelumnya aktif melakukan pembinaan terhadap masyarakat, pada masa wabah virus corona seperti sekarang aktivis Masjid Salman ITB membuat ventilator yang murah dan memobilisasi masyarakat untuk membelinya untuk kemudian disumbangkan ke rumah sakit.

Ketika keadaan normal, Masjid Jogokariyan di Yogyakarta aktif memberikan pencerahan dan bantuan sosial kepada masyarakat. Ketika keadaa tidak normal seperti sekarang, keaktifannya membantu masyarakat menghadapi wabah corona justru bertambah. Bukan berkurang.

Tidak terhitung juga, banyaknya masjid di daerah yang melakukan hal serupa dengan cara berbeda. Pada masa sebelum wabah corona aktif melakukan pembinaan masyarakat, lalu pada saat wabah corona seperti sekarang, menjadi titik penanganan wabah.

Seperti yang diberitakan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sudah menetapkan untuk menjadikan masjid Ash Shidik sebagai tempat isolasi masyarakat yang terpapar Covid-19. Masalahnya bukan apakah boleh tidak nya masjid dijadikan tempat isolasi. Tapi bagaiman sebetulnya Pemda dan DPRD KBB memperlakuan masjid.

Sebelumnya kita tidak pernah mendengar bahwa masjid Ashsidik menjadi pusat pembinaan dan pendidikan masyarakat. Apalagi menjadi pusat perumusan kebijakan yang menjadi rujukan Pemda dan DPRD. Sekarang tiba-tiba masjid dijadikan sebagai garda terdepan dalam menghadapi wabah.

Beberapa kali mungkin terdengar ada kegiatan di masjid yang berkaitan dengan sosial politik. Namun itupun lebih untuk mobilisasi politik dukung mendukung pemerintah. Bukan untuk menjadi tempat pembinaan, pendidikan, pencerahan dan advokasi masyarakat.

Sekali lagi, masalahnya bukan boleh tidak boleh nya Masjid menjadi garis terdepan dalam menghadapi wabah corona, tapi cara pandang DPRD dan Pemda KBB itu yang harus dipertanyakan.

Masjid boleh menjadi pusat isolasi penderita Covid-19. Namun setelah dipastikan bahwa ruang DPRD dan kantor-kantor Partai di KBB tidak mampu lagi memuat penderita Covid-19.

Karena gedung dan kantor-kantor Partai di KBB kerap kosong tidak terpakai dan tidak aktivitas. Lagipula bukankah disana selama ini yang menjadi pusat perumusan kebijakan bagi masyarakat KBB

Masjid boleh menjadi pusat isolasi warga KBB yang terpapar virus corona dan secara fiqih pun tidak bertentangan .
Hanya pastikan dulu bahwa rumah-rumah kosong dan hotel – hotel yang ada di Lembang dan sekitanya trus di Kompleks Bumi Parahyangan beserta fasilitas yang dimilikinya, sudah diisi dan dipakai tempat isolasi. Lagipula bukankah tempat itu yang selama ini menjadi pusat aktivitas elite politik KBB.

Di Jakarta, Gubernurnya sudah menunjukan cara menjadikan Hotel bintang 5 menjadi tempat istirahat bagi para tenaga medis yang sedang bekerja keras menghadapi wabah virus corona.

Lalu apa salahnya kalau hotel-hotel di wilayah KBB juga dijadikan tempat isolasi. Bukankah dalam masa wabah seperti sekarang hotel-hotel tersebut banyak yang kosong. Lagipula apa salahnya masyarakat KBB diperlakukan istimewa oleh Pemda dan DPRD di masa krisis seperti sekarang. Toh mereka rakyat KBB juga.

Naspuroni ( Mang Unas )
Ketua GPII
Kab. Bandung Barat

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *