Praktik Trafficking Disebabkan Oleh Ini

CIMAHI – Tindak perdagangan manusia yang dilakukan MR (16) terhadap gadis yang juga masih dibawah umur, menjadi perhatian khusus. Pasalnya, di usianya yang masih belia itu, dia berani melakukan praktik jual beli manusia untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu pria hidung belang.

Menurut Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Niko N Adiputra, leluasanya MR melakukan tindakan trafficking tersebut, karena luput dari pengawasan orang tua yang tidak mengetahui perilaku anak-anaknya ketika berada di luar rumah.

“Pengawasan dari keluarga mereka memang kurang. Dengan begitu, pergaulan anak-anak tidak terkendali,” kata Niko, Rabu (7/3/2018)

Untuk sementara ini, pelaku masih berada dibalik jeruji besi Mapolres Cimahi guna menjalani hukuman dan pihak kepolisian pun masih melakukan pendalaman.

“Kasus ini masih kita dalami. Karena khawatir ada korban lainnya,” ucapnya.

Aksi pelaku yang sudah mahir dan tergolong rapi ini, menjadikan suatu tugas bagi pihak manapun dalam mengawasi praktik trafficking di tengah-tengah masyarakat.

Dalam hal ini, MR memanfaatkan kecanggihan teknologi. Melalui jejaring sosial ini, ia mensortir siapa saja yang terkoneksi dengan dirinya. Tidak sembarangan orang bisa masuk, karena dia teliti.

Mengetahui adanya praktik trafficking yang dilakukan oleh anak dibawah umur, Psikolog Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) Cimahi, dr. Miryam Ariadne Sigarlaki, angkat bicara.

Menurutnya, kasus tersebut seharusnya bisa dicegah jika, oleh peran orang tua dengan pengawasan terhadap anak-anaknya.

“Komunikasi antara anak dan orang tua harus terbuka, sehingga ketika ada masalah bisa dibicarakan dan tentu ada solusinya,” ujarnya.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat pelaku nekat atau terpaksa melakukan tindakan tersebut. Diantaranya, faktor ekonomi, atau awalnya terjebak dan kemudian melanjutkan usahanya karena sudah kepalang.

Dari beberapa kasus, lanjut dia, seseorang bisa menjadi muncikari, karena dahulu ia pernah jadi korban praktik perdagangan manusia. Sehingga dengan pengalaman itu, jadi tau seluk beluknya.

“Faktor lainnya bisa jadi karena ada kesempatan, yang akhirnya terbiasa dan keenakan, kemudian menjadikan muncikari untuk memenuhi kebutuhannya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, yang dikhawatirkan dalam praktik tersebut, apabila pelaku telah merasa nyaman dengan jalan pintas nya itu maka, korban trafficking khsusnya perempuan yang dijadikan pelayan sex, bisa terus bertambah.

“Kemungkinan bisa bertambah karena, mereka sama-sama mendapatkan keuntungan. Makanya, keluarga harus hadir memberi keteladanan yang baik dan pola pengasuhan yang membuat ahlak remaja menjadi terarah,” pungkasnya. (mon)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *