Tak Terima Disebut Meninggal Lantaran Corona, Keluarga Pasien Geruduk RSUD Cililin

Gambar RSUD Cililin. ft internet

CILILIN— Tak terima dengan pernyataan pihak rumah sakit yang mengklaim salah satu anggota keluarganya meninggal dengan status positif COVID-19, Warga Sumur Bandung, Cililin Kabupaten Bandung Barat (KBB) geruduk RSUD Cililin.

Peristiwa tersebut pada Kamis 7 Januari kemarin. Protes keluarga pasien terjadi lantaran ketidaktahuan terkait protokol kesehatan yang musti dijalankan rumah sakit.

“Kejadiannya kemarin sore. Keluarga pasien datang ke sini mereka protes rumah sakit karena anggota keluarga mereka disebut positif COVID-19,” kata
Direktur Utama RSUD Cililin, dr Achmad Okto Rudy, Jumat (8/1/2020).

Psien yang dimaksud seorang perempuan (48 tahun) dirujuk dari Puskesmas untuk dirawat di RSUD Cililin.

Saat menjalani perawatan di RSUD Cililin, pasien sudah dinyatakan positif COVID-19 hasil rapid antigen. Setelah diperiksa, terlihat dari photo thorax ada flek dan kabut pada bagian paru-parunya.

“Sejak datang dengan riwayat komorbidnya, ada indikasi dia positif COVID-19 apalagi mengeluh sesak nafas. Tapi semuanya sudah clear sekarang,” jelas Okto.

Pihak rumah sakit pun melakukan penanganan lanjutan sesuai prosedur penanganan COVID-19. Pasien tersebut akhirnya meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit. Petugas kemudian melakukan penanganan hingga pemulasaraan sesuai dengan protokol penanganan COVID-19.

“Meninggalnya dengan status probable, tapi penanganannya sesuai protokol COVID-19 karena dari hasil rapid antigen pasien itu positif,” tuturnya.

Menurut Okto, sebelumnya keluarga pasien sudah membuat surat perjanjian persetujuan penanganan terhadap pasien tersebut akan menerima pelaksanaan protokol COVID-19 jika kondisinya memburuk dan meninggal dunia.

“Keluarga sudah membuat persetujuan, kalau seandainya tidak ada perbaikan setuju dilakukan protokol COVID-19. Tapi pas meninggal malah menolak,” sebut Okto.

“Kalau ada yang terkonfirmasi COVID-19 atau probable, ya kita lakukan protokol COVID-19 menghindari penularan ke keluarga dan warga,” imbuhnya.

Persoalan itu pun bergulir hingga harus melibatkan aparat desa, koramil, dan kepolisian. Setelah diberi pemahaman terkait protokol penanganan pasien di tengah pandemi baru emosi keluarga bisa reda.

“Setelah kita beri pemahaman ya akhirnya mereka mengerti. Keluarga yang mau memandikan dan menguburkan kita izinkan, tapi kita lengkapi dengan APD dan didampingi petugas rumah sakit,” tandasnya. ***

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *