Oleh: H. Lukman Hidayat Aktivis Budaya Masyarakat Bandung Barat
"Kaula nyieun istana opat pintu keur ningali jelema jelema nu parakir teu mangih dahar,400 lengkah ka Kidul,kaler,wetan Jeung kulon teu jauh ti gunung sawal, batulayang ulah ngalayang di belah kidul na kaula nyieun tutungul tempat kaula ngalanglang di tatar Pasundan ." itulah salah satu tulisan Raden wirahadi kusuma pendiri kabupaten Batulayang yang ada di manuskrip yang masih tersimpan di salah satu tokoh adat
Nama Batulayang kembali digaungkan. Ia muncul bukan sebagai nama baru, melainkan sebagai nama lama yang terpendam dalam kabut sejarah—pernah menjadi kabupaten, lalu lenyap ditelan zaman kolonial, perang, dan intrik kekuasaan. Namun nama itu tak pernah benar-benar mati. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam cerita rakyat, dalam catatan tua, menunggu waktu untuk kembali bangkit sebagai bagian dari kebangkitan jati diri masyarakat Bandung Barat .
Kini, ketika Kabupaten Bandung Barat menapaki usia ke-18, momentum itu datang. Wacana yang Menyala: Sebuah Proses Politik dan Budaya
Usulan pergantian nama Kabupaten Bandung Barat menjadi Kabupaten Batulayang bukan sekadar aspirasi kosong. Wacana ini kini telah menyala menjadi percakapan publik—diperbincangkan di ruang-ruang diskusi,media sosial, bahkan telah disampaikan dalam forum resmi kenegaraan.
Dalam sambutan Rapat Paripurna DPRD KBB, Gubernur Jawa Barat, KDM menyampaikan gagasan pergantian nama dan bahkan menyatakan siap membantu secara langsung bila masyarakat KBB menghendaki. Itu bukan sekadar pidato, tapi isyarat kuat adanya dukungan politik dari pemerintah tingkat provinsi.
Dimana dari sisi hukum, pergantian nama kabupaten sangat dimungkinkan sekali Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, usulan bisa datang dari tiga unsur yaitu masyarakat, DPRD, dan pemerintah daerah Ketiganya kini mulai menunjukkan geliat. Sejumlah tokoh masyarakat telah menyuarakan dukungannya, meski masih dalam bentuk informal tingal melangkah ke proses formalnya, Beberapa anggota DPRD KBB bahkan telah menyebut secara eksplisit nama Batulayang sebagai calon pengganti nama resmi. Dan tidak tertutup kemungkinan, Pemerintah Kabupaten sendiri bila menangkap sinyal dari Gubernur dan mencermati dinamika dan aspirasi ini secara bijak,.
Nama "Bandung Barat" dianggap kurang mencerminkan karakter daerah. Terlalu generik. Terlalu geografis. Bahkan, terasa sebagai bayang-bayang dari "Bandung" itu sendiri. Sedangkan nama Batulayang—selain memiliki daya ingat kuat dan estetik—juga punya akar sejarah dan nilai budaya yang dalam. Batulayang adalah nama kabupaten yang pernah ada sebelum dihapuskan oleh kebijakan kolonial pada awal abad ke-19.
Membangkitkan kembali nama itu bukan hanya soal nostalgia, tapi soal penguatan identitas, pemulihan martabat sejarah, dan strategi rebranding daerah secara menyeluruh.tentunya Transformasi ini tidak dapat dilakukan tergesa-gesa. Harus ada Studi akademik yang melibatkan sejarawan, budayawan, dan pakar branding daerah;
Konsultasi publik yang terbuka dan mendalam untuk mendengar suara rakyat secara langsung;
Kajian administratif dan regulasi agar transisinya rapi dan tidak merugikan tata kelola pemerintahan.
Rebranding ini bukan sekadar mengganti nama, Ini adalah perubahan arah pembangunan yang berakar pada sejarah dan kebudayaan Sunda, yang membentuk karakter masyarakat dan pemerintahannya Pergantian nama ini diharapkan menjadi titik tolak perubahan menyeluruh. Stigma negatif yang telanjur melekat pada KBB dapat dipangkas. Dengan nama baru dan semangat baru, Kabupaten Batulayang akan hadir sebagai daerah yang lebih berwibawa, berkarakter, dan berbasis kearifan lokal.
Pemerintah daerah akan memegang nilai lebih kuat dalam menyusun arah kebijakan yang menyatu dengan: Pelestarian alam, Pengembangan budaya Sunda, Pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif, Pariwisata sejarah dan spiritual, Serta regenerasi masyarakat pituin yang menjaga dan mewariskan nilai-nilai khas daerah ini. Apakah Kita Siap Menyambut Batulayang?
Transformasi Bandung Barat menjadi Batulayang bukan sekadar perubahan nomenklatur. Ini adalah panggilan sejarah, upaya lahir-batin untuk memperbarui arah, menyusun ulang fondasi identitas, dan membuka jalan baru menuju kemajuan yang lebih bermakna.
Kita tidak sedang menghapus Bandung Barat, tetapi sedang menghidupkan kembali Batulayang sebagai simbol martabat yang lebih tinggi.
Mari berjalan bersama, menyusun masa depan, dengan kaki yang berpijak pada sejarah dan kepala yang menatap ke langit harapan.
Bandung Barat, atau Batulayang—semoga menjadi berkah bagi semua.